Archives

Pak Burhan, Seandainya Bapak Masih Ada

Rumah beratap daun rumbia, dindingnya hanya papan yang susun sirih. Tak ada kamar untuk buang air kecil apalagi kamar mandi. Hanya dapur yang terdiri dari atang-atang, yang di satu sudut dijadikan tempat untuk cuci piring dan kegiatan dapur lainnya. Di dinding dapur itu bergelantungan perkakas masak seperti panci dan wajan yang berwarna hitam legam yang kalau tidak hati-hati saat menyentuhnya akan berakibat tangan penuh corengan arang, panci dan wajan itu sudah terlalu sering ditaruh di atas tunggu untuk keperluan memasak.

Continue reading

Bunga Merak dalam Impian dan Kenyataan

Hembusan angin kemarau menerpa lembut kuntum-kuntum bunga merak berwarna jingga kemerahan, detik demi detik berlalu hingga bunga-bunga itu telah berserakan di permukaan jalan beraspal. Ya … pohon merak ini sudah berusia puluhan tahun. Batang pohonnya kokoh berdiri di tepi jalan raya, hijau daun diselimuti oleh bunga-bunga yang mekar di musim kemarau, bertebaran dan menari-nari terbawa angin.

Continue reading

Tuk Sementara

Fitri terdiam beberapa saat, kelopak matanya berasa panas … kalau saja ia sedang sendiri, pastilah airmata langsung berjatuhan membasahi pipinya. Sayang sekali sekarang ada Yandi di hadapannya, mereka berdua saling terdiam. Keputusan Yandi untuk berangkat ke ibukota tidak bisa ditawar lagi, walaupun cuma beberapa hari saja. Continue reading

Dalam balutan Cinta biru

Malam belum beranjak terlalu jauh, di langit sana bulan masih sepotong dengan taburan bintang berkelap kelip. Walau bukan purnama, namun malam ini berasa lebih indah dan terasa romantis sekali. Setidaknya itulah yang Fitri rasakan, gadis bermata coklat dengan alis hitam bak semut berjejer rapi.Bibirnya yang tipis tersenyum manis menggambarkan kebahagiaan dan keceriaan hatinya, pelan-pelan ia menutup pintu pagar rumah tempat tinggalnya dan memasang gembok dan semenit berikutnya ia pun melangkah masuk ke rumah. Continue reading